Terungkap Jatah Amril Rp36 M, Kadis PU Rp11 M dan DPRD Bengkalis Rp 11 Miliar

oleh -41 views
Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi Bupati Bengkalis non aktif Amril Mukminin di PN Pekanbaru.(foto:jun)

Pekanbaru, WahanaIndoNews.Com – Sidang lanjutan perkara korupsi pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning, dengan terdakwa Bupati Bengkalis Amril Mukminin, kembali digelar di Pengadilan Tipikor Pekanbaru. Dipersidangan terungkap ‘jatah’ terdakwa Amril sebesar Rp36 miliar, Kamis (23/07/2020).

Pantauan Wahanaindonews.com, Jaksa Penuntut dari Komisi Pemberantasan Korupsi yang menghadirkan tiga orang saksi secara teleconverence di hadapan majelis hakim yang diketuai Lilin Herlina SH MH. Ketiga saksi yakni Raymon Kamil, mantan Projec Manager PT Citra Gading Aristama (CGA), Syukur Mursyid Broto Sejati, pemegang saham PT CGA serta Sandi Muhammad Sidik, Mantan Direktur PT CGA.

Kepada majelis hakim saksi Raymond Kamil mengatakan bahwa dirinya menjabat Projec Manager Pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning, terhitung Maret 2013 – Maret 2017. Raymond mengakui turut mendampingi tim PT CGA dari Surabaya bertemu anggota DPRD Bengkalis, Kepala Dinas PU dan Bupati Bengkalis Amril Mukminin.

Saksi yang mengaku sebagai sopir membawa tim CGA, salah satunya Trianto, ke Rumah Makan Pondok Melayu dekat Bandara Sultan Syarif Kasim II. Di sana, ia dan tim bertemu dengan sejumlah anggota DPRD Bengkalis.

Disebutkan, saat ke RM Pondok Melayu, Trianto ada membawa uang sebesar Rp500 juta dalam mata uang asing dalam amplop putih yang akan diserahkan ke anggota DPRD Bengkalis. Sementara Rp500 juta menurut Trianto diserahkan di Batam.

Saksi Raymon Kamil mendengar dari Trianto ada fee 2,5 persen dari nilai kontrak pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning yang akan diberikan kepada anggota DPRD Bengkalis. Setelah makan Ketua DPRD Bengkalis yang saat itu dijabat Heru Wahyudi menyuruh Trianto menyerahkan uang kepada Abdul Kadir.

Saksi Raymon Kamil kemudian membawa mobil ke arah Jalan Sudirman. Di depan SPBU, Trianto membawa amplop dan menyerahkannya ke orang yang ada di belakang mobil yang menunggu. Kata Trianto orang itu Abdul Kadir.

Pada kesempatan tersebut, saksi mendengar dari Trianto rencana uang fee yang akan dibayar PT CGA untuk Bupati sebesar 8 persen atau sebesar Rp36 miliar. Kemudian kepada Tajul 2,5 persen atau Rp11 miliar dan kepada DPRD Bengkalis sebesar 2,5 persen atau sebesar Rp 11 miliar. Penyerahan akan dilakukan secara proporsional sesuai termen.

Eet Terima Rp80 Juta ?

Dalam kesaksian Rhemon Kamil
yang dilangsungkan melalui video conference itu, Rhemon menyebutkan nama Indra Gunawan Eet yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Riau.

Saksi mengaku pernah menerima uang dari seseorang bernama Nunung, yang juga orang PT CGA sebesar Rp80 juta sekitar awal tahun 2017 lalu.

Disebutkan bahwa uang tersebut rencananya akan diserahkan kepada Indra Gunawan Eet yang waktu itu masih anggota DPRD di Bengkalis. Penyerahan dilakukan melalui Tajul Mudarris yang saat itu menjabat selaku Plt Kadis PUPR Bengkalis.

“Saya ingat Rp80 juta. Saya baru mau serahkan ke Pak Eet lewat pak Tajul, tapi uangnya hilang,” terang Rhemon.

Ceritanya, ketika itu saksi baru saja mengambil uang di bank. Rhemon menuju Kantor BPKP Riau di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru. Rencananya di sana akan dilakukan serah terima uang sesuai perjanjian.

“Tapi uangnya hilang. Karena mobil saya mengalami pencurian, di pecah kacanya. Saya waktu itu memang dipesankan menyerahkan ke Pak Eet lewat Tajul Mudarris,” ungkap Rhemon.

JPU KPK : Ada Fakta Baru 

Dari keterangan saksi ini, menurut Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Feby adalah fakta baru dalam perkara ini.

“Keterangan saudara ini merupakan fakta baru,” ujarnya.

Rhemon pun membenarkan keterangan Febby tersebut. Rhemon menyebut, dirinya memang belum pernah ditanyai oleh penyidik terkait masalah ini.

Adapun uang hilang tersebut, penasehat hukum (PH) terdakwa memberikan pertanyaan terhadap Rhemon.

“Apakah ada kelanjutan dari Rp80 juta itu?” tanya PH terdakwa.

“Saya lapor polisi, seminggu atau 10 hari, saudara Triyanto (karyawan PT CGA) datang, uangnya kemudian ditransfer Tri. Lalu uang itu diserahkan ke Pak Eet langsung, jumlahnya tetap Rp Rp80 juta,” jelas Rhemon.

Penyerahan uang untuk Eet itu, seingat Rhemon dilakukan pada Maret 2017.

PH terdakwa kembali bertanya.
“Eet pernah ke Surabaya ngambil jatah dia? Saksi tahu?” tanya PH terdakwa.

“Tidak tahu,” jawab saksi lagi.

Rhemon juga dicecar beberapa pertanyaan mengenai anggaran proyek Duri-Sei Pakning.

“Tahun 2013 itu Rp500 miliaran. Kalau (proyek) multiyearsnya Rp2,3 triliun,” urainya.

Sebelumnya dalam surat dakwaan JPU KPK yang dibacakan dalam agenda sidang perdana empat pekan lalu, Amril Mukminin disebut menerima uang secara bertahap sebesar 520 ribu Dollar Singapura atau setara Rp5,2 miliar melalui ajudannya, Azrul Nor Manurung.

Amril dijerat dalam Pasal 12 huruf a, Pasal 11, dan Pasal 12B ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. (*/jupe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *