wahanaindonews.com Natuna – Pertanyaan mengenai sejak kapan empat aset milik Puskesmas Ranai dengan total nilai sekitar Rp504 juta diketahui tidak ditemukan hingga kini masih belum memperoleh jawaban.
Setelah pemberitaan sebelumnya mengenai temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI yang mencatat empat aset Puskesmas Ranai berstatus “belum ditemukan”, Wahana Indonesia kembali melakukan konfirmasi kepada Kepala Puskesmas Ranai, Nazri.
Konfirmasi lanjutan tersebut diajukan menyusul pernyataan Kepala Puskesmas Ranai pada pemberitaan sebelumnya yang menyebutkan bahwa inventarisasi aset dilakukan secara berkala.
Atas dasar itu, media ini meminta penjelasan mengenai sejak kapan empat aset tersebut diketahui tidak ditemukan. Apakah baru diketahui saat pemeriksaan BPK atau sebenarnya sudah tidak ditemukan pada inventarisasi sebelumnya.
Selain itu, media ini juga mempertanyakan apakah terdapat berita acara kehilangan atau laporan resmi terkait aset tersebut, kapan terakhir aset dipastikan masih ada berdasarkan pencatatan inventaris, serta siapa pengurus barang atau penanggung jawab aset di Puskesmas Ranai saat aset tersebut terakhir tercatat.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Kepala Puskesmas Ranai tidak memberikan penjelasan secara langsung. Melalui pesan WhatsApp, Nazri justru mengarahkan wartawan untuk menghubungi pengurus barang.
“Bpk tanya bagian aset ye, supaya lbh ngerti alur nya,” tulis Nazri.
Tak lama kemudian, Kepala Puskesmas Ranai mengirimkan nomor kontak Pak Anzal, yang disebut sebagai pengurus barang atau bagian aset di Puskesmas Ranai.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Wahana Indonesia langsung menghubungi Pak Anzal melalui pesan WhatsApp pada Jumat (24/7/2026) pukul 14.49 WIB. Dalam konfirmasi tersebut, media ini kembali mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai kronologi empat aset yang belum ditemukan, termasuk sejak kapan aset tersebut diketahui tidak ada, apakah baru diketahui saat pemeriksaan BPK atau telah diketahui pada inventarisasi sebelumnya, apakah terdapat berita acara kehilangan atau laporan resmi, serta kapan terakhir aset tersebut dipastikan masih ada berdasarkan pencatatan inventaris.
Namun hingga berita ini ditayangkan pada Sabtu 25/7/2026 pagi, Pak Anzal belum memberikan tanggapan sama sekali atas konfirmasi yang telah disampaikan.
Belum adanya penjelasan tersebut membuat sejumlah pertanyaan mendasar masih belum terjawab. Padahal, informasi mengenai kronologi hilangnya jejak aset, waktu pertama kali aset dinyatakan tidak ditemukan, serta mekanisme pengelolaan aset merupakan bagian penting untuk memberikan gambaran utuh kepada publik terkait temuan BPK tersebut.
Sebelumnya diberitakan, berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI, terdapat empat aset milik Puskesmas Ranai dengan total nilai sekitar Rp504 juta yang tercatat berstatus “belum ditemukan”. Saat dikonfirmasi pada pemberitaan sebelumnya, Kepala Puskesmas Ranai mengakui bahwa pihaknya telah berupaya mencari aset tersebut, namun hingga kini belum berhasil menemukannya.
Wahana Indonesia tetap memberikan ruang hak jawab kepada Kepala Puskesmas Ranai maupun pengurus barang Puskesmas Ranai. Apabila setelah berita ini diterbitkan terdapat penjelasan, klarifikasi, maupun informasi tambahan, redaksi akan memuatnya secara proporsional sebagai bentuk penerapan prinsip keberimbangan dan profesionalisme dalam pemberitaan.
Penelusuran Wahana Indonesia tidak berhenti sampai di sini. Redaksi akan terus mendalami temuan BPK terkait empat aset Puskesmas Ranai senilai sekitar Rp504 juta yang tercatat “belum ditemukan”, termasuk menelusuri kronologi sejak kapan aset tersebut tidak diketahui keberadaannya, mekanisme pengelolaan aset di Puskesmas Ranai, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pengelolaan Barang Milik Daerah tersebut. Seluruh perkembangan akan disajikan dalam pemberitaan lanjutan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.(Bersambung/Remon)
Editor: Patar











