oleh

PT Padasa Segel Rumah, 5 Buruh Diperiksa. Kapolres Kampar dan Kapolsek XIII Koto Kampar Diadukan ke Polda Riau

Pekanbaru, wahanaindonews.com – Salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kampar (Riau), PT Padasa Enam Utama (PEU) yang beroperasi di Kecamatan XIII Koto Kampar diduga kembali melakukan pengusiran paksa terhadap ratusan orang karyawannya dari rumah dinas perusahaan. Ironisnya, Kejadian itu dilakukan perusahaan pada tanggal 1 Mei 2021, disaat seluruh buruh di dunia sedang merayakan hari besar buruh.

“Iya, ada pengusiran paksa yang dilakukan oleh pihak perusahaan kepada para buruh pekerja di sana. Bahkan ada beberapa oknum Polisi yang turut serta mendampingi perusahaan melakukan pengusiran,” kata Leyanson TM Siagian, Salah seorang dari Tim RiLeyHosa, Kuasa Hukum dari pekerja, Selasa (10/1/2021).

Tindakan pengusiran paksa tersebut menurutnya merupakan puncak kesewenang-wenangan perusahaan terhadap para pekerja. Pihak perusahaan melakukan tindakan intimidasi terhadap para buruh dan dibantu pihak kepolisian.

Peristiwa ini bermula ketika buruh mempermasalahkan hak-hak buruh yang tidak diberikan oleh perusahaan. Kemudian hal tersebut memicu tindakan aksi mogok kerja ratusan karyawan.

Justru yang terjadi, pihak perusahaan dengan sengaja mengintimidasi buruh. Atas kejadian tersebut, para pekerja pun kemudian mempertanyakan realisasi atas janji perusahaan tersebut. Namun yang terjadi diakhir tahun lalu (2020,red) Perwakilan buruh justru dilaporkan pihak perusahaan ke aparat hukum dengan alasan telah melakukan pengancaman kepada pimpinan di kebun PT Padasa Enam Utama.

“Berawal dari tahun lalu karena hak buruh yang tidak diberikan perusahaan. Kemudian buruh mogok kerja. Dalam mediasi perusahaan berjanji akan memenuhi tuntutan buruh. Namun janji tersebut tidak ditepati”, ujar Leyanson.

Atas kejadian tersebut, 3 orang pengurus buruh pun tersangkut pidana dan kasusnya sudah diputus Pengadilan Negeri Bangkinang dengan putusan ketiga orang pengurus buruh bersalah dan divonis 5 bulan penjara, ujar Leyanson yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPC Peradi Batam Raya.

Dan kini, ujar Leyanson lagi, kasus penzoliman terhadap buruh PT Padasa Enam Utana berlanjut. Ratusan buruh yang ikut demo menuntut haknya tahun lalu, sengaja ditakut-takuti. Kemudian dilakukan pengusiran paksa tanpa mempertimbangkan hak-hak pesangon dari buruh, tambahnya.

Tidak sampai disitu, ujar Ley bahwa manajemen perusahaan pun semakin menjadi-jadi setelah melakukan pengusiran paksa dan mengeluarkan sebahagian harta benda buruh tanpa sepengetahuan dari penghuni rumah tersebut. Rumah dinas itupun disegel pihak perusahaan bersama dengan pihak kepolisian dan petugas PAM Swakarsa PT serta preman. Bahkan sebelumnya juga beberapa orang suruhan dari pihak manajemen telah datang untuk mencabut instalasi listrik yang ada di rumah dinas buruh tersebut.

“Puncaknya pada Sabtu (1/5/2021). Para pekerja diusir paksa oleh Perusahaan bersama dengan Oknum Polisi dan Petugas Pam swakarsa PT. Yang menyebabkan anak-anak dari keluarga buruh dipaksa keluar serta menangis ketakutan,” sambungnya.

Kemudian menjelang sore, para buruh yang di PHK sepihak tersebut pun pulang dan disambut anak-anaknya dengan tangisan karena pintu rumah yang dihuninya telah digembok pihak perusahaan. Buruh merasa tidak terima tindakan arogan perusahaan dan dengan terpaksa buruh harus masuk ke rumah dinas karyawan yang dihuninya. Karena menurut Parah buruh dan keluarganya, saat itu sudah menjelang malam, mereka pun harus makan, mandi dan tidur.

Tidak Manusiawi

Disinilah ketidakmanusiawian pihak PT Padasa Enam Utama. Pihak PT dengan sengaja telah melaporkan 5 orang buruh yang diduga telah masuk ke rumah dinas yang disegelnya ke pihak Kepolisian Sektor XIII Koto Kampar Pilres Kampar. Dan saat ini ( Senin, 10/05/2021, red ) Buruh yang dilaporkan tersebut menghadiri panggilan Polsek XIII Koto Kampar, ujar Leyanson.

Disebutkan, 5 orang buruh yang dipanggil Polsek XIII Koto Kampar untuk diperiksa tersebut antara lain Marulitua Hutagalung, Slamet Suryadi, Suhadi, Hepri Sihombing, Sunardi masing-masing buruh pemanen.

Kepada www.wahanaindinews.com, Leyanson yang didampingi Tim RILEYHOSA lainya ( Hoa Sun dan Sari Simangunsong ) di Seputaran Polsek XIII Koto Kampar mengatakan bahwa penyidik Polsek XIII Koto Kampar menyebutkan bahwa kasus terkait 5 orang buruh yang dipanggil terkait kasus pengrusakan segel PT Padasa Enam Utama, dapat dihentikan atau berdamai dengan persyaratan buruh tersebut harus keluar dari rumah dinas karyawan milik PT Padasa.

“Penyidik menyebutkan bahwa kasus tersebut bisa di hentikan dengan syarat buruh keluar dari rumah dinas tersebut”, ujar Ley menirukan ucapan penyidik.

Mendengar keterangan Leyanson tersebut, dengan kompak para buruh pun korban PHK Sepihak tersebut dengan tegas mengatakan tidak akan keluar dari rumah karyawan, sebelum hak-hak mereka direalisasikan oleh pihak PT.

“Biarlah kami jalani proses hukum ini, namun kita semua harus kompak untuk tidak keluar dari rumah dinas PT sebelum hak kita diberikan pihak PT”, ujar Sihombing yang disambut dengan ujaran setuju dari pata buruh lainnya.

Untuk melawan kezoliman PT Padasa Enam Utama yang dibaatu oleh Oknum-oknum Polsek XIII Koto Kampar dan Polres Kampar tersebut, lantas para buruh melapor balik Pihak PT Padasa Enam Utama ( Zuliardi Humas, Rasdiaman Sihaloho Kepala Pengamanan dan Dedi cs Preman suruhan PT ), AKP Budi Rahmadhi Kapolsek XIII Koto Kampar, AKBP Muhammad Kholid SIK Kapolres Kampar, atas penyegelan dan perampasan sebahagiam barang-barang buruh dari rumah dinas buruh, tanpa sepengetahuan penghuni rumah dan Putusan Pengadilan.

Mereka yang mengadu dan melapor tersebut, Marulitua Hutagalung, Slamet Suryadi, Suhadi, Hepri Sihombing, Sunardi, Pinta br Purba dan Laiman. (pm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed