Karhutla Batubi Belum Padam, 6–7 Titik Api Masih Terpantau, Permukiman Jadi Prioritas

Berita, Natuna6 views

wahanaindonews.com, Natuna – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Bunguran Batubi, Kabupaten Natuna, masih menjadi perhatian serius. Setelah berlangsung sekitar tiga minggu, sedikitnya enam hingga tujuh titik api masih terpantau di wilayah tersebut.

Kondisi semakin mengkhawatirkan karena tiga hingga empat titik api berada di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Natuna bersama TNI-Polri dan petugas pemadam kebakaran kini memprioritaskan penanganan titik api yang dinilai paling berisiko mengancam rumah penduduk.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Natuna, Zulheppy, mengatakan keterbatasan personel membuat pihaknya harus menentukan skala prioritas dalam melakukan pemadaman.

“Untuk saat ini ada enam sampai tujuh titik. Yang rawan di pemukiman penduduk ada sekitar tiga atau empat,” ujar Zulheppy saat ditemui di Ranai, Kamis, 3 Agustus 2026.

Menurutnya, keselamatan masyarakat menjadi pertimbangan utama. Titik api yang berada jauh dari permukiman untuk sementara belum menjadi prioritas utama karena keterbatasan kekuatan personel di lapangan.

“Jadi saat ini kita fokus kepada titik api yang terdekat dengan pemukiman penduduk. Yang di luar itu dengan keterbatasan personel terpaksa kita abaikan dulu, karena penghidupan masyarakat itu yang paling penting,” katanya.

Tiga Minggu Berjibaku

Penanganan karhutla di Bunguran Batubi disebut telah berlangsung kurang lebih tiga minggu.

Lamanya proses penanganan menunjukkan tantangan yang dihadapi petugas di lapangan tidak ringan. Banyaknya titik panas membuat personel gabungan harus bekerja secara bergantian untuk mencegah api mendekati kawasan yang dihuni masyarakat.

Bahkan, pihak Kecamatan Bunguran Batubi kembali meminta dukungan personel kepada BPBD Natuna.

Permintaan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan personel tambahan ke wilayah yang membutuhkan penanganan, terutama titik-titik yang berada dekat permukiman.

“Barusan juga dari kecamatan, Pak Camat telepon saya untuk minta dukungan personel. Alhamdulillah, personel kita sudah bergerak ke Bunguran Batubi,” ujar Zulheppy.

Puluhan Personel Dikerahkan

Dalam penanganan karhutla tersebut, BPBD Natuna mengerahkan sembilan personel.

Sementara dari jajaran Polres Natuna melalui personel Polsek dan Bhabinkamtibmas, sekitar 30 personel turut dilibatkan.

Dukungan juga datang dari petugas pemadam kebakaran dengan sekitar 10 personel yang diterjunkan membantu proses pemadaman, khususnya pada titik-titik yang berpotensi mengancam permukiman warga.

Jika dijumlahkan, puluhan personel gabungan saat ini terlibat dalam upaya penanganan karhutla di wilayah Bunguran Batubi.

Namun, jumlah personel yang dikerahkan belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan di lapangan.

Sarpras Masih Minim

Di tengah kondisi karhutla yang belum sepenuhnya terkendali, persoalan lain yang menjadi tantangan adalah keterbatasan sarana dan prasarana penanganan kebakaran.

Zulheppy secara terbuka mengakui bahwa sarpras yang dimiliki saat ini masih sangat minim.

“Kalau untuk sarpras memang saat ini masih sangat minim. Tapi dengan semangat personel kita, alhamdulillah masih bisa kita tangani,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri dalam menghadapi potensi karhutla, terlebih ketika jumlah titik api bertambah sementara kekuatan personel dan peralatan terbatas.

BPBD Natuna bersama instansi terkait terus melakukan koordinasi dan evaluasi terhadap perkembangan kondisi di lapangan.

Fokus utama saat ini adalah memastikan titik api yang berada paling dekat dengan permukiman dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Di sisi lain, kewaspadaan masyarakat juga menjadi penting mengingat kondisi kekeringan dapat membuat lahan lebih mudah terbakar.

Karhutla di Bunguran Batubi menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak hanya membutuhkan kesiapan personel, tetapi juga dukungan sarana, prasarana serta koordinasi lintas sektor yang memadai.

Sebab ketika titik api terus bertambah, sementara personel dan peralatan terbatas, pilihan untuk menentukan wilayah prioritas pemadaman menjadi sebuah keniscayaan. (Remon)

Editor: Patar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *