wahanaindonews.com, Natuna – Persediaan air baku di sumber air Gunung Ranai, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, terus menurun di tengah ancaman kekeringan yang mulai dirasakan masyarakat.
Direktur PDAM Tirta Nusa Natuna, Zaharuddin, mengungkapkan ketersediaan air di sumber Gunung Ranai saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 30 persen.
Kondisi tersebut membuat PDAM mulai menerapkan sistem distribusi air secara bergiliran untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat.
“Gunung Ranai sumber airnya banyak dipakai masyarakat. Untuk itu, saat ini kami masih menerapkan sistem bergiliran,” kata Zaharuddin dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kantor Bupati Natuna, Senin, 24 Agustus 2026.
Berbeda dengan Gunung Ranai, kondisi sumber air di Bukit Berangin masih relatif lebih baik. Berdasarkan pemantauan PDAM, ketersediaan air di kawasan tersebut masih berada di kisaran 60 persen.
Menurut Zaharuddin, kondisi Bukit Berangin relatif stabil karena sumber air tersebut berada jauh dari jangkauan permukiman masyarakat. Sementara Gunung Ranai lebih banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga sehingga debit airnya lebih cepat mengalami penurunan.
Untuk wilayah Kota Ranai, PDAM menyebut jalur Bandarsyah dan Penagi masih dalam kondisi aman. Namun, PDAM tetap melakukan langkah antisipasi apabila kondisi kekeringan terus berlanjut.
Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan embung sebagai bagian dari upaya memperkuat ketersediaan sumber air.
Namun, pelaksanaan pembangunan tersebut masih menunggu kedatangan salah satu peralatan yang didatangkan dari Jakarta.
“Kami masih menunggu kedatangan satu item alat yang segera dikirim dari Jakarta. Mudah-mudahan terbawa dengan kapal kali ini,” ujar Zaharuddin.
Di tengah menurunnya debit sumber air, PDAM Tirta Nusa juga melakukan pelayanan air bersih secara gratis bagi masyarakat yang permukimannya terdampak kekeringan.
Langkah tersebut menjadi salah satu upaya darurat untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi ketika sumber air mulai mengalami penurunan.
Meski demikian, angka ketersediaan air Gunung Ranai yang kini disebut hanya sekitar 30 persen menjadi perhatian serius. Kondisi tersebut berpotensi semakin berat apabila curah hujan tidak kunjung membaik dan kebutuhan air masyarakat terus meningkat.
PDAM pun dituntut memastikan distribusi bergiliran dapat berjalan terukur, sekaligus mempercepat langkah untuk menambah kapasitas dan sumber air baku guna mengantisipasi kondisi yang lebih parah. (Remon)
Editor: Patar











