wahanaindonews.com, Natuna – Ekonomi kreatif adalah suatu konsep perekonomian di era ekonomi baru, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengedepankan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang paling utama.
Hal ini disampaikan oleh Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Natuna, Hardinansyah, saat dijumpai di kantornya, di komplek Masjid Agung Natuna, Jumat 27 Oktober 2023.
“Akan tetapi kita harus memilah ekonomi kreatif yang tupoksinya merupakan tanggung jawab Dinas pariwisata atau ekonomi kreatif peran dinas Koperasi dan Perdagangan,” terangnya.

Hardiansyah juga menjelaskan, Ekonomi Kreatif (Ekraf) yang motifatornya Dinas Pariwisata adalah ekraf dalam kereasinya bernuasa wisata, sebagai daya minat beli wisatawan untuk membeli suatu produk, sebagai souvenir untuk dibawa pulang.
“Di Natuna, aset kreatif yang berpotensi menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi cukup banyak, namun aset belum ditangani dengan baik dan professional, Sebagai contoh, pohon kelapa yang sudah tua bisa menghasilkan produk karya seni yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” terangnya.
Sementara, Kabid Ekraf Natuna, Wan Enriko, menjelaskan, ekonomi kreatif telah menjadi bagian integral dari perkembangan ekonomi global.
Dalam upaya memajukan sektor ini, Dispar Ekraf telah membuat inovasi dalam memicu pertumbuhan di berbagai sub sektor ekonomi kreatif.

“Ekraf yang dilakukan juga tidak terlepas dalam 17 sub sektor ekonomi kreatif,” ungkapnya.
Diantaranya, Sub sektor kuliner telah mengalami perkembangan yang signifikan. Peningkatan kualitas produk dan kemasan telah menjadi fokus utama.
Selain itu, muatan label seperti label halal, NPIRT, dan HAKI telah memberikan nilai tambah pada produk-produk kuliner. Inovasi dalam kuliner tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga dengan kualitas dan keamanan produk.

Sub sektor kriya telah menjalani perbaikan dalam hal kualitas produk yang dihasilkan oleh pelaku ekraf. Peningkatan ini membantu melestarikan seni tradisional dan menghadirkan kriya-kriya yang lebih berdaya saing di pasar global.
Dalam sub sektor fesyen, produk batik telah mengalami peningkatan kualitas dan motif. Ini membantu mempertahankan warisan budaya dan menciptakan tren fesyen yang menarik baik di dalam negeri maupun di pasar internasional.
Sedangkan, dalam sub sektor musik, kolaborasi dengan diaspora telah menjadi kunci untuk mengembangkan bakat seni. Konser musik kreatif telah memunculkan peluang baru untuk musisi dan seniman dalam menciptakan karya-karya yang inovatif dan mendukung pertumbuhan industri musik.
Enriko menyatakan, inovasi ini adalah contoh nyata bagaimana ekonomi kreatif terus berkembang melalui kolaborasi, peningkatan kualitas, dan penggunaan label dan merek yang relevan.
Dia berharap, dengan berfokus pada inovasi, ekonomi kreatif dapat terus tumbuh dan menjadi kekuatan ekonomi yang mendorong kemajuan di berbagai sektor.(Oki)






