oleh

Waspada Gelombang 4 Hingga 6 Meter Berpeluang Terjadi di Natuna

-Berita, Natuna-115 views

wahanaindonews.com, Natuna – Hujan disertai angin kencang yang terjadi di wilayah bagian utara ini menyebabkan terjadinya tinggi gelombang air laut. Akibatnya, nelayan pesisir tak lagi bisa beroperasi.

Inilah yang disampaikan salah seorang nelayan Setapang, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur, Azan (31). Ia menyebutkan sudah hampir sebulan tak lagi melaut.

Kata Azan, biasanya ia ke laut pada malam hari untuk mencari ikan teri. Dengan demikian, ianya mengaku kesulitan dalam melakukan penangkapan teri tersebut.

“Ya pada malam hari, karena ikan bilis nangkapnya pada malam hari menggunakan sampan dan lampu, kalau angin kencang disertai gelombang otomatis tak bisa,” ujar Azan saat ditemui di kediamannya, Sabtu, 17 Juli 2021.

Melaut merupakan satu-satunya pekerjaan yang ia tekuni selama ini dalam mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Hal senada juga dikatakan salah seorang warga Singgang Bulan, Desa Cemaga Utara. Safarudin mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, dirinya memilih kerja sebagai kuli bangunan.

“Saya juga bisa tukang bangunan, jika tidak bisa melaut saya ganti profesi,” kata Safarudin sambil meneguk segelas kopi.

Memasuki musim ekstrim seperti ini dirinya berujar, tidak bisa dipaksa melaut. Karena pompong yang dimilikinya ukurannya sangatlah kecil.

“Beda dengan nelayan yang memliki pompong besar, mungkin masih berani untuk melaut,” beber lelaki yang lebih akrab disapa Udin itu.

Sementara itu, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Natuna, Mexianus Bekabel kembali mengingatkan bahwa, Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak, mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang terjadi di perairan sekitar wilayah pelayanannya.

Dalam narasi peringatan yang berlaku mulai tanggal 15 hingga 16 Juli 2021 itu disebutkan, tinggi gelombang 1,25 meter sampai 4 meter, berpeluang terjadi di perairan Kepulauan Anambas, Perairan Kepulauan Natuna, dan Laut Natuna Utara.

“Semoga imbauan kami yang sesuai data BMKG ini bisa dipahami dan diikuti oleh warga nelayan maupun pengguna pompong,” pinta Mexi.

(Prengki)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed