wahanaindonews.com, Batam – Sejak sistim pengelolaan air minum (SPAM) di Kota Batam mengalami masa peralihan, dari yang sebelumnya dikelola oleh PT ATB, dan selanjutnya dikelola oleh PT MOYA Indonesia pada sekitar bulan Nopember tahun 2020 lalu, PT MOYA Indonesia tidak jarang mendapat protes keras dari berbagai elemen masyarakat Kota Batam yang menjadi pelanggan, atau konsumen dari sistem pengelolaan air minum tersebut.
Penilaian dari masyarakat (konsumen) tersebut terus bermunculan, dimana PT MOYA Indonesia selaku pengelola air bersih yang memenangkan tender penyelenggaraan operasi dan pemeliharaan selama masa transisi (6 bulan) Sistem Penyediaan Air Minum di Batam, terhitung sejak Nopember 2020 hingga Mei 2021, yang selanjutnya masa kontraknya diperpanjang tiga bulan hingga Agustus 2021, dinilai tidak cakap dalam sistem pengelolaan manajemen dan juga sistem pengelolaan air bersih.
Karena sejak pengelolaan SPAM di Kota Batam dikuasai atau dikelola oleh PT MOYA Indonesia, tidak jarang masyarakat atau pelanggan protes dan mengeluh karena pembayaran rekening air yang dinilai tidak wajar, jika dibandingkan dengan SPAM di Kota Batam, selama masih dikuasai atau dikelola oleh PT ATB Sebelumnya.
Bentuk protes ini terus bermunculan dari masyarakat, baik lewat pemberitaan-pemberitaan di media massa, maupun keluhan masyarakat yang disampaikan melalui jejaring sosial media (Sosmed).
Sebagaimana yang baru-baru ini diunggah oleh salah seorang pengguna Sosmed disalah satu grup Sosmed. Unggahan tersebut langsung mendapat banyak respon dari warga net lainnya.
Dalam unggahannya, yang diketahui diunggah pada hari Minggu (20/06/2021) warga net tersebut menyampaikan keluhannya, terkait pembayaran rekening air yang menurutnya tidak wajar jika dibandingkan dengan pembayaran rekening air yang dilakukannya selama masih dikuasai oleh PT ATB sebelumnya.
“PT Moya bagaimana cara kau hitung tagihan air ya? Masak iya tagihan air saya 250 ribu? saya tinggal di perumnas putra jaya tanjung uncang, airnya hidup jam 1 malam hingga jam 5 pagi aja, siang kau matikan air, dulu sama ATB saya cuma bayar 60 ribu aja, suka”kau aja hitung tagihan air ya?,” tulis warga net tersebut.
Menanggapi unggahan tersebut warga net lainnya ikut memberikan banyak komentar yang sama. Salah satunya dari Akun Siska Azmi, dimana Siska Azmi mengatakan bahwa dirinya juga pernah membayar tagihan air hingga mencapai Rp 2 juta.
“Sy juga dah pernah kena mau 2jt wktu pertama xnya Corona nyesak rasanya bayar segitu banyaknya,” tulis akun tersebut.
Tidak hanya itu, dalam komentar dari warga net lainnya, bahkan ada yang sampai mengajak untuk melakukan aksi demo. Ajakan tersebut diduga atas rasa kecewa dan ketidakpuasan terhadap tagihan rekening air yang sangat tinggi dari PT MOYA Indonesia.
“Capek deh bos. saya dari Rp.33.000 tiba-tiba aja 784 000. sudah kalabirasi meteran, jelas tak akurat(rusak) tapi tagihan tetap diklaim konsumen.cocoknya kita demo itu moya. Tulis akun tersebut.
Bahkan masih banyak lagi komentar sinis dan ketidakpuasan dari warganet lainnya, yang merasa sangat kecewa yang ditujukan kepada PT MOYA Indonesia selaku pengelola SPAM di Kota Batam yang terkesan hanya mementingkan keuntungan.
Atas banyaknya keluhan-keluhan tersebut, terkait tingginya peningkatan pembayaran rekening air yang harus dibayar, maka tidak mengherankan jika PT MOYA Indonesia dapat meraup keuntungan yang sangat besar dari Sistem Pengelolaan Air Minum di Kota Batam.
Sebagaimana pengakuan dari Direktur PT MOYA Indonesia, yang dikutip dari pemberitaan dari media Batamlagi.com, dimana PT MOYA Indonesia dalam masa belum sampai dua bulan, sudah dapat meraup keuntungan yang terbilang sangat fantastis, yakni PT MOYA Indonesia mampu meraup keuntungan hingga mencapai Rp 40 miliar.(red)












