Quo Vadis Ketahanan Pangan dan Ketahanan Ekonomi?

oleh -22 views
Satu Pojok Pemandangan Tempat Loka Budi Daya Laut Perikanan di Barelang Batam

Batam, Wahanaindonews.com – Masa pandemic Covid -19 ini sejatinya membuat semua elemen memutar otak atau bahasa kerennya “move on” atau juga bergerak.Yang akar katanya “move” artinya gerak ; “bergerak” ; bergeser yang mana bisa pull atau push. Dan ada kata “on” yang bisa di artikan sebagai awalan “di” atau “pada”.

Pembuka alinea diatas merupakan sandaran artikel ini agar semua paham bahwa “move on” itu bukan sembarangan “dua suku kata” yang saling “menopang.”

Intinya begini menurut penulis,bahwa makna dua suku kata itu dalam dan bukan “kaleng-kaleng”. Terkadang manusia level pemimpin lupa dan menyepelekan.Alamaak apalagilah rakyat biasa.

Photo, Robet siagian Bersama Mentri Kelautan dan Perikanan Dr Edhy Wibowo, saat pemberian dan pengarahan Benih Ikan dan Udang Kepada Nelayan di Loja Budi Daya Perikanan Barelang Batam

Penekanan penulis disini adalah agar stakeholder di negara ini,baik Pemerintah Pusat,Kementerian dan Dirjen masing-masing dibawahnya mesti waspada dan giat “bergerak” alais “move on” alias “mutar otak” dimasa pandemi ini.

Why….? Caused; the corona virus ini sudah “melantak” sisi ekuin+wisata+ketenagakerjaan+ perpajakan/fiskal.

Semua erat kaitannya dengan transaksi ekonomi berjalan. Dan kini sudah sulit diprediksi akan lari kemana puncaknya.Indeksnya, sekali lagi sulit dikoreksi.!

Yang merasa “nyaman” kini adalah sektor yang jauh menyentuh atau mempengaruhi ekonomi berjalan. Maaf kalau agak saklek ; bahwa bisnis barang seken atau “besi tua” sekarang ini adalah bisnis menggiurkan.Karena sejumlah aktifitas industri dlsbnya terhenti. Maaf konstruksinya sebegitu.Mau apa lagi? Bagaimana tidak harus “move on”.

Atau yang nyaman sekarang mereka yang digaji pemerintah.Bukan masyarakat kebanyakan.!

Photo, Pemandangan dari Atas, Kantor Loka Budi Daya Perikanan di Barelang Batam

Jumlah yang “nyaman” di Republik ini,sepertinya hanya sekitar 20 persen saja.Presiden RI Jokowi, jelas-jelas dari pelbagai raker dan ratas bahkan pidatonya bahkan pesannya jelas ; “di masa pandemic harus dilakukan langkah-langkah khusus karena sekarang ini bukanlah situasi yang biasa,tapi luar biasa,sehingga harus lakukan upaya yang serius dan luar biasa”.

Jelas.Dan sangat jelas tekanan Kepala Negara.! Makanya dari pusat dan daerah (Gubenur,Bupati,Walikota serta jajarannya) jangan malas.Situasi sekarang berbeda.Begitulah.

So…..apa yang harus dilakukan? Sudah barang tentu demi mensiasati keadaan “extra ordinary” ini, yang nampaknya adalah “kampung tengah” alias perut. Siapa.yabg tahan tak makan dan menahan lapar? Jika ekonomi masyarakat sulit maka dampaknya kepada “keamanan”. Tindakan kriminalitas.Ini harus dihindari.

Pembaca mau tahu? Di era ekonomi sulit di masa Covid-18 ini, sektor hiburan pun kena dampak yang luar biasa.Sektor pariwisata yang mampu mendongkrak PAD daerah sangat terpuruk.Manufaktur bagaimana? Idem ditto juga.

Penulis yang pernah belajar di salah satu universitas yang lumayan rankingnya di Indonesian ini ; mengamati hal-ihwal pergeseran yang terjadi di sektor ekonomi di tanah air. Browsing sana-sini di internet.Maka menyimpulkan bahwa sebagaimana keadaan sekarang.Yang diperlukan sekarang adalah “Ketahanan Pangan atau Ketahanan Ekonomi”.

Maka,saatnya Pemerintah Ousat dan Daerah tudak hanya memikirkan kalangan medis saja.Tapi kalangan ahli-ahli agrobisnis dan ahki pangan.Linier dengan pola penanganan kesembuhan mereka yang positif covid-19.

Asupan makanan bermutu dan bervitamin yabg masuk ke tubuh akan meningkatkan immunitas.Semua orang pasti percaya.

Beras dan sayur mayur serta ikan yang bermutu akan membantu ketahanan alias imunitas tubuh.Jeleknya jika ada orang berolahraga rutin untuk imunitas; namun asupan makanan hanya rendah sekian kalori dan vitamin,maka alamatnya tubuh jadi “gempor” alamat akan cepat “game over” juga akhirnya.Ahhh…..Jangan seperti itu.Olah-raga perlu makanan seimbang.Kita sepakat.

Lalu bagaimana mensiasati ketahanan pangan?Jelas bukan cabe saja yang diperbanyak produksinya guysss…..Memalukan.

Yang kaya akan kalori plus multi vitamin-lah yang harus diasup masyarakat sehingga imunitasnya tinggi. Ada vitamin A,B,B Plus,C,E dan bila perlu ada mengandung Collin bahkan Omega3.Yang terakhir memang baik untuk anak-anak batita dan balita.Ada dalam ikan.

Paparan diatas jelas kemana arahnya. Persiapkan ahli pangan.Ahli produksi pangan.Bagaimana cara membudidayakannya.Petani harus di support agar produksi pangan pertanian lain dan budi data serta nelayan tangkap perikanan dapat survive.

Bibit,pupuk serta alat pertanian dan fasilitas nelayan juga harus disubsidi.Kesana arahnya artikel ini.Jangan Menter Keehatan saja yang disorot terus.Lemah kita.

Maka peran Menteri Perikanan,Pertanian,Menteri Perindustrian dan Perdagangan harus juga bisa mem-viral dan meng-spiral karena “menguasai keadaan” pada masa pandemic ini dan mensupport petani dan nelayan dengan bebas KKN.

Sehingga dengan bantuan subsidi bibit,pupuk,alat pertanian dan transportasi, maka harga di pasar akan turun dan terjangkau masyarakat luas untuk membelinya dan mengasupnya di tengah keluarga.

Juga demikian di usaha kuliner,makanan bergizi dipasaran dapat dibeli dengan murah serta terjangkau.
Dan jika sudah ada support tadi, maka “price controlling” alias pengontrol harga dari pemerintah di pasar harus dibentuk.

Pihak Pemda masing-masing bisa membentuk satgas pengontrol harga.Harus yang serius. Kita bergotong-royong hingga tercipta adil makmur sejahtera dan ASN juga rakyatnya berkesadaran tinggi.Negara yang diidamkan.

Silahkan artikel ini di share kemana-mana. Mudah-mudahan ini berguna dan punya arti baik, yang mempengaruhi membuka cakrawala berpikir bertindak Aparatur Pemerintah dan masyarakat dengan baik. Demi masa depan kita dan negara.”Bukankah kita ingin hidup seribu tahun lagi,” mengutip syair Chairil Anwar.

Tulisan ini diketik sendiri oleh penulis,bukan jiplakan (plagiat) atau copas dari mana-mana.Original.!

Jujur artikel ini dibuat Senin pagi (14/08/2020) pukul 03.30, ada kegelisahan penulis. Sekali lagi jujur,terinspirasi dari tidak trendingnya lagi masyarakat makan beras merah dan International Rice (IR 1 dan 2) yang doeloe dimotori ahli pangan dan gizi Institute Pertanian Bogor Program.Dan tidak trendingnya lagi tagline-nya Departemen Perikanan “Ayo makan ikan”.

Jika direspon tulisan ini.Maka hasil tindakan kebaikannya, bukan hanya buat masa sekarang saja, juga untuk anak cucu dan generasi yang akan datang.Salam sehat.(robertyahya siagian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *