Komisi III DPRD Kota Batam Desak Pengusaha Limbah B3 Indonesia

oleh -20 views

Batam, Wahanaindonews.com – Komisi III DPRD Kota Batam menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Asosiasi Pengusaha Limbah (Aspel) Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) Indonesia, bersama BP Batam selaku pihak yang mengkelola kawasan Pengelolaan Limbah Industri (KPLI) Kabil, Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Sabtu (15/08/2020).

Turut hadir dalam RDP tersebut, diantaranya Sekretaris Komisi III DPRD Kota Batam Arlon Veristo, Werton Panggabean, Ketua Aspel B3 Indonesia, Barani Sihite, Sekjen Aspel B3 Indonesia Samsul Hidayat, Tumbur Hutasoit, SH., Thomas Sembiring S.Sos, Amintas Tambunan, dan Jefri simanjuntak Biyanto Rohaizat ST.MM.

Dalam hal ini, Sekjen Aspel B3 Indonesia, Samsul Hidayat menjelaskan dalam waktu dekat ini Aspel B3 Indonesia akan membahas bersama anggota Aspel B3 Batam limbah-limbah apa saja yang bisa ditumpuk selama 90 hari, 120 hari dan 320 hari, terkait banyaknya tumpukan limbah B3 di KPLI Kabil khususnya jenis limbah B3 jenis padat seperti cover sludge.

Ketua Aspel B3 Indonesia, Barani Sihite juga menjelaskan bahwa penanganan Limbah B3 di Batam sudah cukup bagus, makanya untuk penanganan limbah B3, kota Batam sering dijadikan Pilot projeck oleh daerah lain.

Belum lama ini, sejumlah masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Pemuda Nusantara (GNP) pernah melakukan aksi damai di DPRD Kota Batam, saat limbah B3 banyak menumpuk di KPLI Kabil.

“Khusus tumpukan limbah B3 jenis padat seperti cover sludge di KPLI Kabil sudah Over Load dan Over Time bertahun-tahun,” sebut GNP.

Mereka menilai penimbunan (dumping) limbah B3 tersebut sudah melanggar Peraturan Pemerintah RI Nomor 101 tahun 2014 tentang pengolahan limbah B3.

Selain itu, Barani Sihite menyebutkan bahwa ada beberapa alasan mengapa limbah B3 menumpuk di KPLI Kabil, yang pertama masalah infrastruktur seperti kapal yang akan mengangkut limbah B3 tersebut harus memiliki izin khusus. Alasan kedua yaitu dampak dari Covid-19 mengakibatkan pengiriman menjadi terhambat.

Alasan lain, Barani juga mengatakan bahwa mengenai dokumen kita hanya membuat satu laporan ke Bea Cukai dan pihak Bea Cukai langsung mengecek ke lapangan untuk mengetahui jenis limbah B3.

“Pihak pengusaha tenant telah melakukan upaya untuk mengurangi tumpukan limbah B3 di KPLI Kabil,” tandasnya.

Berikutnya, Barani Sihite juga mengatakan bahwa dalam Minggu ini pihaknya akan melakukan pengiriman Limbah B3 keluar Kota Batam dengan menggunakan tongkang sebanyak 7.000 ton yang dikoordinir oleh anggota Aspel B3 yang ada di Kota Batam.

“Dalam bulan ini dipastikan akan ada 2 pengiriman yakni sebanyak 14.000 ton limbah B3,” tandasnya.

Selain itu, Ia juga memberi apresiasi kepada masyarakat dan mahasiswa terkait peningkatan kinerja KPLI Kabil dalam mengatasi limbah B3 di kota Batam.

Berikutnya, Barani juga menyebutkan luas KPLI Kabil yang saat ini yang luasnya sekitar 36 hektar jika dibandingkan dengan limbah B3 yang diproduksi oleh perusahaan di Batam sudah tidak sesuai dan harus ditambah sekitar 40 hektar.

Selanjutnya, Ia juga mengatakan bahwa Aspel B3 Batam sudah melakukan pengajuan lahan untuk perluasan tempat penampungan sementara limbah B3, namun hingga saat ini belum ada jawaban dari BP Batam.

(Edison Tumanggor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *