Karnaval Budaya Natuna Angkat Kekayaan Tradisi Melayu

Berita, Natuna, Sosial60 views

wahanaindonews.com, Natuna – Pemerintah Kabupaten Natuna kembali mendorong pelestarian budaya daerah melalui Karnaval Budaya yang akan digelar Minggu, 10 Oktober 2026.

Kegiatan yang mengusung tema “Harmoni Budaya di Lantai Samudra” tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah memperkenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap kekayaan budaya Natuna.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Natuna, Hadisun, mengatakan karnaval bukan sekadar kegiatan hiburan, tetapi bagian dari pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah.

“Budaya harus dilestarikan dan tidak boleh hilang dimakan waktu,” kata Hadisun saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Kamis, 8 Oktober 2026.

Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengenal, mencintai dan mengembangkan budaya yang telah diwariskan para pendahulu.

“Kita lakukan agar generasi muda, anak bangsa, tetap menghargai budaya kita,” ujarnya.

Hadisun menjelaskan, tema “Harmoni Budaya di Lantai Samudra” menggambarkan keberagaman budaya masyarakat Natuna yang hidup berdampingan dengan karakter daerah kepulauan.

Kekayaan budaya tersebut, kata dia, juga menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas daerah, termasuk mendukung upaya Natuna menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).

“Kita kembangkan terkait budaya Melayu,” katanya.

Dalam pelaksanaan tahun ini, peserta mengikuti kategori perorangan. Perubahan konsep tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan padatnya agenda sekolah yang membuat sebagian pelajar kesulitan mengikuti kegiatan secara berkelompok.

Penilaian dilakukan oleh juri yang dinilai memiliki pengalaman di bidang kebudayaan. Beberapa aspek yang dinilai antara lain desain kostum, atraksi, ide, kreativitas dan kesesuaian dengan tema.

Hadisun menambahkan, budaya Natuna tidak hanya sebatas pakaian tradisional maupun kesenian. Kekayaan tersebut juga mencakup adat istiadat, bahasa, tradisi lisan, ritual, permainan rakyat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional hingga olahraga tradisional.

Selain warisan budaya tak benda, Natuna juga memiliki warisan budaya benda yang masuk dalam kategori cagar budaya, seperti situs, struktur, bangunan dan kawasan.

“Tujuan kegiatan ini pengembangan kebudayaan, pembinaan. Intinya pemerintah ingin budaya ini tidak hilang dimakan zaman,” ujarnya.

Untuk menarik partisipasi masyarakat, Pemkab Natuna menyediakan hadiah yang bersumber dari APBD. Juara pertama memperoleh Rp9 juta dan piala, juara kedua Rp7 juta dan piala, serta juara ketiga Rp5 juta dan piala.

Sementara itu, juara harapan I mendapatkan Rp3 juta dan juara harapan II Rp2 juta. Selain itu, terdapat penghargaan bagi 10 peserta terbaik dengan hadiah masing-masing Rp1 juta.

Hadisun menegaskan, hadiah bukan menjadi tujuan utama kegiatan. Menurutnya, yang lebih penting adalah keterlibatan masyarakat dalam menjaga identitas dan kekayaan budaya daerah.

Karnaval dijadwalkan dimulai sekitar pukul 06.30 WIB. Masyarakat yang masih berminat mengikuti kegiatan tersebut dapat melakukan pendaftaran melalui kontak yang telah disediakan atau datang langsung ke Museum Sri Serindit. Pendaftaran dibuka hingga Sabtu pagi.

Ia mengakui, pelaksanaan kegiatan kebudayaan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan anggaran dan adanya agenda internal sekolah.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap berupaya agar kebudayaan Natuna terus hidup dan dikenal oleh generasi penerus.

Melalui Karnaval Budaya, Pemkab Natuna berharap kekayaan budaya Melayu dan budaya lokal lainnya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas daerah. (Remon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *