Warga Batu Ampar Titip Sejumlah Aspirasi, Henry FN Pastikan Tetap Dikawal

wahanaindonews.com, Natuna – Warga RT 05 dan RT 06 RW 01 Batu Ampar memanfaatkan kegiatan Reses II Tahun Anggaran 2026 anggota DPRD Kabupaten Natuna Dapil I, Henry FN yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Jek, untuk menyampaikan berbagai kebutuhan pembangunan di lingkungan mereka.

Reses yang berlangsung di TPQ Batu Ampar, Minggu, 9 Agustus 2026 malam, tersebut turut dihadiri Lurah Ranai, Ketua RW, Ketua RT dan masyarakat setempat.

Dalam pertemuan itu, sejumlah persoalan disampaikan warga. Mulai dari kondisi drainase, kebutuhan lampu penerangan jalan, akses jalan hingga persoalan jaminan kesehatan menjadi bagian dari aspirasi yang disampaikan kepada wakil rakyat.

Masyarakat berharap berbagai kebutuhan tersebut dapat mendapat perhatian pemerintah daerah. Mereka juga berharap DPRD dapat menjadi penghubung antara kebutuhan warga dengan pemerintah, sehingga usulan yang disampaikan memiliki peluang untuk masuk dalam program pembangunan.

Lurah Ranai yang hadir dalam kegiatan tersebut turut menyampaikan harapan agar Henry FN dapat menjadi jembatan dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Menurutnya, komunikasi antara masyarakat, pemerintah kelurahan dan DPRD perlu terus dibangun agar kebutuhan di lingkungan warga dapat disampaikan melalui jalur yang tepat.

Menanggapi aspirasi tersebut, Henry FN mengatakan tidak ada aspirasi masyarakat yang diabaikan. Namun, setiap usulan harus mengikuti tahapan perencanaan pembangunan dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Henry menyebut kondisi anggaran saat ini membuat pemerintah dan DPRD harus lebih selektif dalam menentukan program yang dapat direalisasikan.

Meski begitu, ia memastikan kawasan Batu Ampar tetap menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam perjuangan aspirasi.

«“Untuk Batu Ampar ini setiap tahun ada aspirasi. Mungkin saya sudah jatuh cinta dengan Batu Ampar. Dengan kondisi anggaran yang minim, Batu Ampar tetap ada,” ujar Henry.»

Menurutnya, pada tahun ini terdapat pembangunan jalan menuju pemakaman yang menjadi salah satu bentuk realisasi aspirasi di kawasan tersebut.

Henry mengatakan keterbatasan anggaran memang menjadi tantangan dalam memperjuangkan seluruh usulan masyarakat. Karena itu, masyarakat diminta memahami bahwa setiap program harus melalui proses perencanaan dan penentuan prioritas.

«“Kalau ada anggaran, aspirasi enak. Tapi sekarang perencanaan sudah ketat, karena harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran,” katanya.»

Terkait usulan pembangunan musala, Henry meminta masyarakat mengajukan kembali usulan tersebut. Hal itu menyusul adanya perubahan perangkat daerah yang menangani program pembangunan fasilitas tersebut.

«“Untuk musala, diminta usulan baru karena ada perubahan. Kalau dulu kan di Perkim, sekarang sudah di Kesra,” jelasnya.»

Henry juga mengingatkan warga agar aspirasi yang ingin diperjuangkan dapat dimasukkan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Menurutnya, tahapan tersebut penting agar usulan masyarakat tercatat secara resmi mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kabupaten.

Ia mengatakan, aspirasi yang telah masuk Musrenbang tetapi belum terealisasi pada tahun berjalan masih dapat diperjuangkan kembali dalam perencanaan berikutnya.

«“Kalau ada aspirasi yang sudah masuk Musrenbang, tapi tidak terealisasi di tahun ini, kita akan masukkan lagi untuk perencanaan tahun 2028,” ujarnya.»

Sedangkan bagi usulan yang belum pernah masuk dalam Musrenbang, masyarakat diminta segera mengusulkannya melalui tingkat kelurahan dan kecamatan.

«“Yang belum masuk, kita usahakan masuk Musrenbang kelurahan, kecamatan, terus kabupaten,” kata Henry.»

Ia menegaskan, tugas wakil rakyat bukan hanya menerima aspirasi, tetapi ikut mengawal agar kebutuhan masyarakat dapat diperjuangkan melalui mekanisme pembangunan yang tersedia.

Henry berharap kondisi anggaran daerah ke depan semakin membaik. Dengan ruang fiskal yang lebih longgar, menurutnya, semakin banyak kebutuhan masyarakat yang dapat diwujudkan.

«“Kita berharap ke depan anggaran menjadi lebih lagi, agar banyak aspirasi yang bisa direalisasikan,” pungkasnya.»

Reses tersebut menjadi ruang bagi masyarakat Batu Ampar untuk menyampaikan secara langsung persoalan yang mereka hadapi. Aspirasi yang muncul selanjutnya menjadi bahan bagi Henry FN untuk dikawal melalui tahapan perencanaan pembangunan daerah. (Remon)

Editor: Patar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *